Lo Pikir NVLTY Cuma Jual Kaos Distro? Sori, Mereka Lagi Nulis Ulang Kamus Streetwear Pake Bahasa Reruntuhan.
Gue liat kaos NVLTY pertama kali di feed Instagram. Logo-nya? Bukan huruf gothic, bukan sans-serif clean. Tapi kayak… stiker tempelan di tiang lampu yang udah setengah dikelupas. Ada yang nempel, ada yang ilang. Terus ada angka-angka, kode pos, tulisan “PROPERTY OF” yang dicoret. Gue langsung mikir, ini brand nyampah atau jenius?
Ternyata, ini bukan cuma desain. Ini adalah dekonstruksi. NVLTY itu, kalau lo baca sebagai teks, adalah tesis visual tentang kegagalan mimpi Inggris. Mereka nggak cuma “terinspirasi” sama subkultur. Mereka mengkompilasi pecahan-pecahannya—punk, rave, football casual, bahkan estetika CCTV—lalu menciptakan dialek visual baru dari reruntuhan itu. Mari kita bongkar kodenya.
Membaca Hoodie NVLTY Seperti Membaca Puing Arkeologi
Ambil contoh hoodie mereka yang paling iconic, “KEEP THE STREETS EMPTY FOR ME”. Dari jauh kelihatan kayak hoodie abu-abu biasa. Tapi coba deketin.
- Teks yang Dicoret & Ditempel Ulang: Kalimat utamanya itu bukan dicetak mulus. Teksturnya kayak stiker vinyl yang sengaja dipasang salah, lalu dicoba dikelupas, dan ada sisa-sisa lem yang nempel. Ini signifier kuat. Itu bicara tentang kepemilikan yang ditolak, pesan yang diredam, identitas yang coba dihapus tapi nggak pernah benar-benar hilang. Lo nggak bisa own sesuatu di kota yang terus berubah, lo cuma bisa numpang nempel sebentar.
- Angka dan Kode yang Nonsensikal: Di lengan, ada embos angka “0241” kecil. Itu bukan tahun, bukan kode produk. Tapi kemungkinan besar adalah kode pos distrik di Manchester—lokasi klub undergound atau tempat yang sekarang udah jadi apartemen mahal. Angka itu adalah penanda geografis yang sudah kehilangan petandanya. Dulu punya makna, sekarang cuma hiasan. Dan justru di situlah letak kritiknya: nostalgia sebagai komoditas.
- Material sebagai Metafora: Mereka sering pake bahan teknik (technical mesh) yang biasa buat baju olahraga premium, tapi dipaduin dengan sablon yang sengaja buram dan “low-quality”. Ini tabrakan antara aspirasi (teknologi, performa) dan realita (rusak, usang). Seperti stadion sepakbola tua yang disulap jadi kondominium.
Mereka Bukan Membuat Pakaian, Tapi “Ruang Terbengkalai” yang Bisa Dipakai
Ini yang bikin analisis kode visual NVLTY menarik. Mereka mengambil estetika dari tempat-tempat yang diabaikan: ruang ganti klub malam yang lembab, pagar pembangunan proyek, interior bus malam. Lalu mentransfer “aura” tempat-tempat itu ke kain.
Contoh kasus: Koleksi “CONTROLLED BLEED” mereka. Sablonnya menggunakan pola statik TV, garis raster, dan warna yang “bleeding” kayak tinta printer murahan. Ini jelas referensi ke visual era rave 90an dan tape mixtape bootleg. Tapi konteksnya sekarang beda. Di era digital yang sempurna, mereka sengaja menampilkan error, glitch, noise. Itu jadi bentuk penolakan terhadap kebersihan digital. Sebuah pemberontakan dengan merayakan cacat.
Atau, di sisi lain, penggunaan motif CCTV grid yang disamarkan jadi pola all-over print. Itu bukan cuma “edgy”. Itu pernyataan tentang pengawasan, paranoia perkotaan, dan bagaimana kita hidup di dalam panopticon yang kita sendiri bantu bangun lewat media sosial. Lo beli hoodie dengan motif mata-mata, dan jadi bagian dari pertunjukannya. Ironic consumption level: expert.
Kesalahan Membaca NVLTY (Dan Brand Sejenis)
- Membacanya Secara Harfiah: “Wah keren, design-nya distressed banget kayak vintage.” Stop di situ. Itu seperti nilai puisi cuma dari rima. Lo kehilangan lapisan maknanya. Kode visualnya dirancang untuk dibongkar.
- Menganggapnya Sekedar “Aesthetic”: Ini kesalahan terbesar. Memasukkan NVLTY ke dalam kategori “darkwear” atau “grunge revival” itu mengurangi nilainya. Mereka bukan revival. Mereka adalah arsitek baru yang bangun dari bahan bekas. Mereka bukan nostalgia, tapi arkeologi futuristik.
- Tidak Melihat Konteks Inggris: NVLTY nggak akan lahir di tempat lain. Dia adalah produk spesifik dari post-industrial anxiety, gentrifikasi yang menggila, dan tabrakan kelas di Inggris. Desain hoodie dengan badge klub bola yang dikaburkan itu bicara tentang identitas working-class yang diromantisasi dan sekaligus dihilangkan.
Jadi, gimana cara “memakainya” dengan benar?
Sebenarnya nggak ada cara yang benar. Tapi kalo lo mau lebih dari sekadar gaya:
- Research Dulu Sebelum Beli: Jangan cuma liat gambar. Cari wawancara pendirinya (seringnya anonim, tapi ada petunjuk), baca press release mereka yang biasanya berupa puisi atau manifesto abstrak. Pakaian itu adalah entry point-nya, bukan akhir.
- Tanya pada Diri: Apa yang Dikomunikasikan oleh Pakaian Ini Tentang Zamannya? Kalo lo pake NVLTY di Jakarta, artinya jadi lain lagi. Lo mengimpor sebuah narasi keruntuhan dan mendomestikasikannya. Itu tindakan yang sendiri menarik secara budaya.
- Jangan Takut Tampil “Berantakan”: Pola pikir “harus match” itu musuh dari filosofi brand ini. Tabrakan adalah esensinya.
Pada akhirnya, NVLTY berhasil karena mereka memahami satu hal: streetwear modern sudah bukan lagi tentang logo yang bisa dibanggakan. Tapi tentang kode yang bisa dibaca oleh yang paham. Setiap jahitan, setiap cacat desain, setiap angka acak, adalah sebuah kata dalam dialek visual baru mereka.
Membeli NVLTY bukan membeli produk. Itu adalah membeli akses ke sebuah percakapan yang ruwet, suram, dan sangat manusiawi tentang bagaimana kita hidup di kota-kota yang terus memakan sejarahnya sendiri. Lo mau cuma pake kaos, atau mau jadi bagian dari teks itu?


